Archive for March, 2008

Lutfan’s

Wednesday, March 12th, 2008

 

 

dunia ini …

penuh dengan
kebahagian dan juga kesedihan

melihat orang
yang tertawa membuatku merasa bahagia

melihat orang
yang menagis membuatku bersedih

 

ingin kubertanya
pada diriku

untuk apa aku
hidup

apakah hanya
untuk bersenang senang saja

atau justru
untuk merenungi kesalahan kesalahan

tanpa melihat
hari esok

 

apa yang telah
aku perbuat

untuk orang
orang di sekitarku

orang orang yang
dengan penuh cinta

dan kasih sayang
selalu menemaniku

 

aku mungkin tak
berguna bagi mereka

tapi suatu saat
nanti

aku ingin
membahagiakan mereka

membawa secercah
cahaya

hingga membuat
mereka tersenyum bahagia

 

ya tuhanku

berikanlah aku
kekuatan dan ketabahanan

hingga aku dapat
bermanfaat bagi smua

keluarga ,
sahabat , teman , dan orang orang terdekat ku

 

amin ….

 

 

 

Lutfan’s poem

Wednesday, March 12th, 2008

hatiku kian rapuh
rapuh serapuh pohon yang ingin tumbang
mengapa ini mesti terjadi
apa salahku

mencinta memang sakit
tapi adakalanya bahagia
sebahagia kupu - kupu yang terbang bebas

mungkin semuanya tlah berakhir
cinta itu kian pudar dari hatiku
tiap kali kumencinta
dia slalu sudah termiliki
entah teman atau orang lain

sedih tak tertahankan
meghantam lara menghujam jiwa
menusuk kalbu menembus raga

tapi smuanya pasti ada hikmah
mungkin sekarang tidak
bulan depan , tahun depan , mungkin 2 tahun lagi
aku mendapat yang lebih baik
itu harapanku …

Puisi

Wednesday, March 12th, 2008

Aku tak tertarik apa mata pencarianmu.
Aku ingin tahu apa yang kau dambakan, dan apakah kau berani mengimpikan bertemu dengan
pujaan hatimu.
Aku tak tertarik berapa usiamu.
Aku ingin tahu apakah kau mau mengambil resiko terlihat bodoh demi cinta, demi cita-cita,
demi petualangan hidup sepenuhnya.
Aku tak tertarik planet apa yang menempati bulanmu.
Aku ingin tahu apakah kau telah menyentuh pusat dukamu sendiri, jika
kau telah dibukakan oleh pengkhianatan hidup atau telah menjadi layu atau tertutup karena takut disakiti lagi! Aku ingin tahu apakah kau bisa duduk bersama rasa sakit, sakitku atau
sakitmu, tanpa mencoba menyembunyikannya, atau memudarkannya atau memperbaikinya. Aku ingin tahu apakah kau bisa berada dalam sukacita, sukaku atau sukamu;
jika kau bisa menari dengan alam liar dan
membiarkan keriangan mengisimu hingga ujung jemari kaki dan tanganmu tanpa mengingatkan kita untuk berhati-hati, bersikap realistis, atau mengingat keterbatasan manusia.
Aku tak tertarik apakah cerita yang kau kisahkan itu benar.
Aku ingin tahu apakah kau bisa mengecewakan orang lain agar jujur pada dirimu;
jika kau
dapat menanggung tuduhan pengkhianatan dan tidak mengkhianati jiwamu sendiri.
Aku ingin tahu apakah kau bisa setia dan karenanya dapat dipercaya. Aku ingin tahu apakah kau dapat melihat keindahan meskipun tidak setiap hari itu elok, dan jika kau dapat
menyumberkan hidupmu dari kehadiran Tuhan. Aku ingin tahu apakah kau bisa hidup dengan kegagalan, gagalmu atau gagalku, dan tetap berdiri pada sisi
danau dan berteriak pada bulan keperakan, “Ya!”
Aku tak tertarik pada tempat tinggalmu atau seberapa banyak uang yang kau miliki.
Aku ingin tahu apakah kau bisa bangkit setelah semalam berduka dan merana, lelah, babak belur, dan melakukan apa yang perlu dilakukan demi anak-anak.
Aku tidak tertarik siapa dirimu, atau bagaimana kau tiba disini.
Aku ingin tahu apakah kau masih bisa berdiri di tengah api bersamaku dan tidak mundur teratur.
Aku tidak tertarik dimana atau apa atau dengan siapa kau belajar.
Aku ingin tahu apa yang menjagamu dari dalam, saat segala hal berjatuhan.
Aku ingin tahu apakah kau bisa sendirian bersama dirimu; dan apakah kau
benar-benar
menyukai temanmu di saat-saat hampa.

Hollywood jaringan

Wednesday, March 12th, 2008

Siapa tak kenal Hollywood? Nyaris seluruh manusia di bumi ini kenal atau sedikitnya pernah mendengar istilah itu. Namun tahukah Anda jika nama Hollywood ternyata menginspirasikan banyak sekali studio-studio besar di banyak negara dunia, yang juga terkait dengan produksi film.

Kita semua tahu bahwa Hollywood yang dikuasai jaringan Yahudi AS itu tidak sekadar bikin film dan mendatangkan uang yang besar. Ada sisi ideologis di balik berdirinya mesin industri hiburan terbesar dan terlengkap di dunia ini. Misinya sederhana: mempromosikan The American Dreaming ke seluruh umat manusia. Apa sebenarnya “The American Dreamin” tersebut? Ini tak lain adalah: Kebebasan, Kebebasan, dan Kebebasan. Liberalisme.

Dalam benak orang banyak, kebebasan yang digaungkan Hollywood tentu positif. Bebas untuk berekspresi, bebas untuk berbicara, bebas untuk berkreasi, bebas untuk berpikir, dan sebagainya. Bukankah ini bagus?

Tapi nanti dulu, kebebasan seperti itu sebenarnya sekadar kedok bagi liberalisme absolut yang menempatkan akal manusia pada kekuasaan mutlak. Tidak ada batas-batas, apalagi agama. Inilah sebenarnya tujuan para pendiri Hollywood, yakni membuat seluruh manusia di bumi ini terseret dalam arus liberalisme sehingga tidak mau lagi tunduk pada yang namanya iman. Yang ada hanyalah pikiran (dan nafsu).

Sudah terlalu banyak kisah nyata bagaimana kemaksiatan terjadi di Hollywood. Tulisan ini tidak akan membahas hal tersebut, namun memaparkan kepada kita semua betapa nama ‘Hollywood’ ternyata menginspirasikan banyak negara untuk mengadaptasi namanya untuk studio-studio film mereka.

Tapi nanti dulu, siapa tahu, ya siapa tahu, kenyataan ini ternyata bukan sekadar “inspiring name” tetapi yang terjadi sebenarnya merupakan jaringan (Hollywod network) yang memuat visi dan misi yang sama dengan induknya. Siapa tahu?

Inilah daftar sejumlah studio-studio di berbagai negara yang namanya diambil dari nama ‘Hollywood’:

    * Bollywood (Mumbai, India).
    * Chollywood (Peruvian)
    * Dhaliwood (Dhaka, Bangladesh).
    * Dollywood (Taman Hiburan di Tennesse, AS)
    * Etyekwood (nama lain Korda Studios di Budapest, Hongaria)
    * Hollyhammar (Swedia)
    * Hollywood North (Vancouver, Toronto, di Canada)
    * Kollywood (Chennai, Tamil Nadu, Selatan India).
    * Lollywood (Lahore, Pakistan).
    * Mollywood (Industri Film Malayalam India).
    * Mollywood (Industri Film Mormon).
    * Nollywood (Nigeria).
    * Pollywood (Peshawar, Pakistan).
    * Sollywood (Industri Film Sindhi).
    * Tollywood (Andhra Pradesh).
    * Tollywood (Bengali Barat, India).
    * Trollywood (Trollhättan Municipality, Swedia).
    * Valleywood (Wales).
    * Wellywood (Wellington, New Zealand).

Tentang Hollywood dan Jaringan Yahudi AS yang berkuasa di dalamnya, tentang sejarah dan agenda terselubungnya, tentang pengaruh global Hollywoodisme terhadap budaya dunia–termasuk di Indonesia, akan dibahas dalam majalah eramuslim digest edisi 3 yang insya Allah akan terbit awal Oktober 2007.(Rizki)

Angka Sial 13

Wednesday, March 12th, 2008

Di seantero dunia terdapat bermacam-macam kepercayaan, mitos, dan legenda, yang tidak terhitung banyaknya. Bagi kaum rasionalis, kepercayaan-kepercayaan orang-orang tua ini seharusnya ikut mati sejalan dengan modernisasi yang merambah seluruh sisi kehidupan manusia. Namun demikiankah yang terjadi? Ternyata tidak.

Di dalam tatanan masyarakat modern, kepercayaan-kepercayaan tahayul ini ternyata tetap eksis dan bahkan berkembang dan merasuk ke dalam banyak segi kehidupan masyarakatnya. Kepercayaan-kepercayaan ini bahkan ikut mewarnai arsitektural kota dan juga gedung-gedung pencakar langit.

Sebagai contoh kecil, di berbagai gedung tinggi di China, tidak ada yang namanya lantai 13 dan 14. Menurut kepercayaan mereka, kedua angka tersebut tidak membawa hoki. Di Barat, angka 13 juga dianggap angka sial. Demikian pula di berbagai belahan dunia lainnya. Kalau kita perhatikan nomor-nomor di dalam lift gedung-gedung tinggi dunia, Anda tidak akan jumpai lantai 13. Biasanya, setelah angka 12 maka langsung ‘loncat’ ke angka 14. Atau dari angka 12 maka 12a dulu baru 14. Fenomena ini terdapat di banyak negara dunia, termasuk Indonesia.

Mengapa angka 13 dianggap angka yang membawa kekurang-beruntungan? Sebenarnya, kepecayaan tahayul dan aneka mitos yang ada berasal dari pengetahuan kuno bernama Kabbalah. Kabalah merupakan sebuah ajaran mistis kuno, yang telah dirapalkan oleh Dewan Penyihir tertinggi rezim Fir’aun yang kemudian diteruskan oleh para penyihir, pesulap, peramal, paranormal, dan sebagainya—terlebih oleh kaum Zionis-Yahudi yang kemudian mengangkatnya menjadi satu gerakan politis—dan sekarang ini, ajaran Kabbalah telah menjadi tren baru di kalangan selebritis dunia.

Bangsa Yahudi sejak dahulu merupakan kaum yang secara ketat memelihara Kabbalah. Di Marseilles, Perancis Selatan, bangsa Yahudi ini membukukan ajaran Kabbalah yang sebelumnya hanya diturunkan lewat lisan dan secara sembunyi-sembunyi. Mereka juga dikenal sebagai kaum yang gemar mengutak-atik angka-angka (numerologi), sehingga mereka dikenal pula sebagai sebagai kaum Geometrian.

Menurut mereka, angka 13 merupakan salah satu angka suci yang mengandung berbagai daya magis dan sisi religius, bersama-sama dengan angka 11 dan 666. Sebab itu, dalam berbagai simbol terkait Kabbalisme, mereka selalu menyusupkan unsur angka 13 ke dalamnya. Kartu Tarot misalnya, itu jumlahnya 13. Juga Kartu Remi, jumlahnya 13 (As, 2-9, Jack, Queen, King).

Penyisipan simbol angka 13 terbesar sepanjang sejarah manusia dilakukan kaum ini ke dalam lambang negara Amerika Serikat. The Seal of United States of America yang terdiri dari dua sisi (Burung Elang dan Piramida Illuminati) sarat dengan angka 13. Inilah buktinya:
-13 bintang di atas kepala Elang membentuk Bintang David.
-13 garis di perisai atau tameng burung.
-13 daun zaitun di kaki kanan burung.
-13 butir zaitun yang tersembul di sela-sela daun zaitun.
-13 anak panah.
-13 bulu di ujung anak panah.
-13 huruf yang membentuk kalimat ‘Annuit Coeptis’
-13 huruf yang membentuk kalimat ‘E Pluribus Unum’
-13 lapisan batu yang membentuk piramida.
-13 X 9 titik yang mengitari Bintang David di atas kepala Elang.

Selain menyisipkan angka 13 ke dalam lambang negara, logo-logo perusahaan besar Amerika Serikat juga demikian seperti logo McDonalds, Arbyss, Startrek. Com, Westel, dan sebagainya. Angka 13 bisa dilihat jika logo-logo ini diputar secara vertikal. Demikian pula, markas besar Micosoft disebut sebagai The Double Thirteen atau Double-13, sesuai dengan logo Microsoft yang dibuat menyerupai sebuah jendela (Windows), padahal sesungguhnya itu merupakan angka 1313.

Uniknya, walau angka 13 bertebaran dalam berbagai rupa, bangsa Amerika rupa-rupanya juga menganggap angka 13 sebagai angka yang harus dihindari. Bangunan-bangunan tinggi di Amerika jarang yang menggunakan angka 13 sebagai angka lantainya. Bahkan dalam kandang-kandang kuda pacuan demikian pula adanya, dari kandang bernomor 12, lalu 12a, langsung ke nomor 14. Tidak ada angka 13.

Kaum Kabbalis sangat mengagungkan angka 13, selain tentu saja angka-angka lainnya seperti angka 11 dan 666. Angka ini dipakai dalam berbagai ritual setan mereka. Bahkan simbol Baphomet atau Kepala Kambing Mendez (Mendez Goat) pun dihiasi simbol 13. Itulah sebabnya angka 13 dianggap sebagai angka sial karena menjadi bagian utama dari ritual setan.(Rz)

Jakarta

Wednesday, March 12th, 2008

Bencana banjir yang demikian hebat melanda Jakarta sesungguhnya tidak perlu terjadi jika Pemerintah Daerah Provinsi Jakarta, terutama Dinas Perencanaan Tata Kota dan Gubernur Sutiyoso, bekerja sungguh-sungguh membangun kota metropolitan ini sesuai dengan struktur tanah dan peruntukkannya.

Namun yang terjadi ternyata tidak demikian. Pemprov DKI Jakarta ternyata lebih gemar membangun mal, pusat pertokoan, dan sebagainya. Ulah Mas Sutiyoso yang membongkar jalur hijau di sepanjang Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat baru-baru ini menjadi bukti betapa Pemda DKI tidak perduli dengan nasib kotanya sendiri. Gubernur yang satu ini lebih mendahulukan pengerjaan proyek Busway ketimbang Proyek Banjir Kanal Timur yang pengerjaannya terkatung-katung sejak lama. Dan akibatnya seperti sekarang, semua warga Jakarta kena getahnya.

Tentang pembangunan Jakarta yang salah arah, Lembaga Swadaya Masyarakat Urban Poor Consorsium (LSM-UPC) sejak tahun 2005 telah menulis dalam websitenya, “Jakarta adalah sebuah baskom yang dikelilingi oleh beton-beton tol lingkar luar. Baskom yang sebagian besar dasarnya sudah padat oleh beton. Resapan air yang kian menipis. Jakarta sebagai kota air tidak pernah sungguh-sungguh dirancang sesuai dengan karakter alamnya… ”

Bahkan tidak hanya itu, LSM-UPC juga menambahkan, “…Jakarta sebagai kota baskom, tidak hanya sasaran empuk untuk banjir air, tetapi juga banjir lainnya: banjir penduduk, kendaraan bermotor, polusi, banjir korupsi, kekerasan, gaya hidup konsumeristis, banjir duit, pembangunan yang memperkosa lingkungan dan mengorbankan rakyat kecil. Kota yang tidak malu melihat dirinya telah kehilangan sebagian besar sejarah masa lalunya. ” Inilah Jakarta.

Temuan yang sebenarnya tidak perlu membuat kita kaget ternyata diungkapkan oleh Asisten Deputi Urusan Pengendalian Kerusakan Hutan/Lahan Kementerian Negara Lingkungan Hidup Hermono Sigit. Menurut data yang berhasil diperolehnya, dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah resapan air di Jakarta dan sekitarnya secara kuantitas dan kualitas telah berkurang sekitar 50%.

Menurutnya, sepuluh tahun lalu di Jabotabek masih ada sekitar 21 daerah serapan air yang berbentuk telaga atau situ aktif. Namun kini jumlahnya hanya tinggal sekitar 15 dengan ukuran yang juga semakin kecil. “Situ di Jabotabek, khususnya di Jakarta, umumnya telah berubah menjadi pemukiman, ” ujar Sigit.

“Sebab itu, situ atau telaga yang tersisa ini sekarang tidak lagi sanggup menyerap air yang datang ke Jakarta. Akibatnya ya banjir seperti ini, ” tambahnya.

Lembaga Swadaya Masyarakat Wahana Lingkungan Hidup (LSM-Walhi) juga menemukan bahwa daerah resapan air selain telaga di Jakarta, seperti ruang hijau dan hutan kota, juga telah jauh berkurang. Menurut Walhi, sebuah kota idealnya sekitar 30% lahannya merupakan lahan serapan air yang bisa berbentuk taman kota atau pun telaga. Namun untuk kota Jakarta, lahan yang tersisa untuk itu sekarang tinggal 6%.

Dalam perencanaannya, Pemprov DKI terlihat memang tidak memiliki kesungguhan dalam mengelola kotanya agar lebih baik dan manusiawi. Kota Jakarta yang memiliki luas 66. 152 hektar dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2000-2010 hanya mematok target 13, 94% lahannya untuk daerah serapan air.

Dulu, Jakarta pernah memiliki sekurangnya 49 telaga atau situ dengan luas total 341 hektar. Namun kini seluruhnya telah mengering dan berubah menjadi pemukiman atau perkantoran atau pun pasar. 13 sungai besar yang membelah Jakarta juga telah mendangkal.

Yang menambah ironis, dengan jumlah penerimaan APBD yang cukup besar dibanding provinsi lainnya, Pemprov Jakarta ternyata malah kedodoran dalam mengelola hutan-hutan kota yang tidak seberapa sehingga taman-taman dan hutan kota yang ada kondisinya semrawut dan tak terpelihara dengan baik. Sungai-sungai pun tak ubahnya sebagai "bak" sampah.

Bandingkan dengan gaya hidup para pejabatnya. Mereka bisa hidup dengan mewah, rumah-rumahnya megah, berkeliling kota dengan mobil-mobil terbaru, anaknya bersekolah di luar negeri, dan sebagainya. Padahal jika dibandingkan dengan jumlah gaji perbulannya, jelas mereka tidak akan sanggup dengan gaya hidup yang demikian tinggi. Apakah itu mengindikasikan mereka telah makan uang haram? Wallahu’alam.

Yang jelas, warga Jakarta kian hari kian hidup dalam lilitan penderitaan yang seolah tiada akhir. Tiap tahun rumah mereka kebanjiran. Barang-barang mereka yang dibeli dengan susah payah hancur-lebur. Sedangkan para pejabatnya asyik-asyikkan tinggal di apartemen. Bagaimana Mas Yos? (Rz)

Holywoods

Wednesday, March 12th, 2008

Siapa tak kenal Hollywood? Nyaris seluruh manusia di bumi ini kenal atau sedikitnya pernah mendengar istilah itu. Namun tahukah Anda jika nama Hollywood ternyata menginspirasikan banyak sekali studio-studio besar di banyak negara dunia, yang juga terkait dengan produksi film.

Kita semua tahu bahwa Hollywood yang dikuasai jaringan Yahudi AS itu tidak sekadar bikin film dan mendatangkan uang yang besar. Ada sisi ideologis di balik berdirinya mesin industri hiburan terbesar dan terlengkap di dunia ini. Misinya sederhana: mempromosikan The American Dreaming ke seluruh umat manusia. Apa sebenarnya “The American Dreamin” tersebut? Ini tak lain adalah: Kebebasan, Kebebasan, dan Kebebasan. Liberalisme.

Dalam benak orang banyak, kebebasan yang digaungkan Hollywood tentu positif. Bebas untuk berekspresi, bebas untuk berbicara, bebas untuk berkreasi, bebas untuk berpikir, dan sebagainya. Bukankah ini bagus?

Tapi nanti dulu, kebebasan seperti itu sebenarnya sekadar kedok bagi liberalisme absolut yang menempatkan akal manusia pada kekuasaan mutlak. Tidak ada batas-batas, apalagi agama. Inilah sebenarnya tujuan para pendiri Hollywood, yakni membuat seluruh manusia di bumi ini terseret dalam arus liberalisme sehingga tidak mau lagi tunduk pada yang namanya iman. Yang ada hanyalah pikiran (dan nafsu).

Sudah terlalu banyak kisah nyata bagaimana kemaksiatan terjadi di Hollywood. Tulisan ini tidak akan membahas hal tersebut, namun memaparkan kepada kita semua betapa nama ‘Hollywood’ ternyata menginspirasikan banyak negara untuk mengadaptasi namanya untuk studio-studio film mereka.

Tapi nanti dulu, siapa tahu, ya siapa tahu, kenyataan ini ternyata bukan sekadar “inspiring name” tetapi yang terjadi sebenarnya merupakan jaringan (Hollywod network) yang memuat visi dan misi yang sama dengan induknya. Siapa tahu?

Inilah daftar sejumlah studio-studio di berbagai negara yang namanya diambil dari nama ‘Hollywood’:

    * Bollywood (Mumbai, India).
    * Chollywood (Peruvian)
    * Dhaliwood (Dhaka, Bangladesh).
    * Dollywood (Taman Hiburan di Tennesse, AS)
    * Etyekwood (nama lain Korda Studios di Budapest, Hongaria)
    * Hollyhammar (Swedia)
    * Hollywood North (Vancouver, Toronto, di Canada)
    * Kollywood (Chennai, Tamil Nadu, Selatan India).
    * Lollywood (Lahore, Pakistan).
    * Mollywood (Industri Film Malayalam India).
    * Mollywood (Industri Film Mormon).
    * Nollywood (Nigeria).
    * Pollywood (Peshawar, Pakistan).
    * Sollywood (Industri Film Sindhi).
    * Tollywood (Andhra Pradesh).
    * Tollywood (Bengali Barat, India).
    * Trollywood (Trollhättan Municipality, Swedia).
    * Valleywood (Wales).
    * Wellywood (Wellington, New Zealand).

Tentang Hollywood dan Jaringan Yahudi AS yang berkuasa di dalamnya, tentang sejarah dan agenda terselubungnya, tentang pengaruh global Hollywoodisme terhadap budaya dunia–termasuk di Indonesia, akan dibahas dalam majalah eramuslim digest edisi 3 yang insya Allah akan terbit awal Oktober 2007.(Rizki)